Stres Berat Bikin Durasi Haid Lebih Lama? Ini Kata Dokter

Stres berat tidak hanya membuat pikiran terasa lelah. Pada perempuan, tekanan emosional, fisik, maupun psikologis juga dapat memengaruhi keseimbangan hormon yang mengatur siklus menstruasi.
Salah satu dampaknya, durasi haid bisa berlangsung lebih lama dari biasanya.
Dokter Chetna Jain, Direktur Departemen Obstetri dan Ginekologi Cloudnine Group of Hospitals, Sector 14, Gurgaon, mengatakan stres memang dapat mengganggu siklus menstruasi pada sebagian perempuan.
“Saat tubuh mengalami stres emosional, fisik, atau psikologis, tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin,” ujar Dr. Jain, seperti dilansir Only My Health, Sabtu (18/7/2026).
Lantas, bagaimana stres berat bisa membuat haid lebih lama?
Stres mengganggu hormon hingga memicu haid lebih lama
Saat mengalami stres berat, tubuh melepaskan hormon kortisol dan adrenalin. Kedua hormon tersebut dapat mengganggu kerja hipotalamus, kelenjar pituitari, dan ovarium yang bersama-sama mengatur siklus menstruasi.
Menurut Dr Jain, gangguan pada sistem tersebut dapat membuat pola haid berubah.
“Sebagian perempuan mungkin mengalami haid yang terlambat, sementara lainnya mengalami perdarahan lebih banyak, bercak di antara siklus, siklus tidak teratur, atau haid yang berlangsung lebih lama,” jelasnya.
Haid yang biasanya berlangsung selama empat hingga lima hari dapat memanjang hingga satu minggu atau lebih ketika keseimbangan hormon terganggu akibat stres.
Ovulasi terganggu dan lapisan rahim luruh tidak teratur
Stres berat juga dapat mengganggu atau menunda ovulasi. Ketika ovulasi terlambat atau tidak berlangsung sebagaimana mestinya, kadar hormon estrogen dan progesteron bisa mengalami perubahan yang tidak normal.
“Ketidakseimbangan ini dapat memengaruhi lapisan rahim dan menyebabkan peluruhannya tidak teratur, sehingga perdarahan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan,” ujar Dr. Jain.
Stres berat sendiri dapat muncul dari berbagai kondisi, seperti tekanan pekerjaan, masalah hubungan, kesulitan finansial, duka atau trauma, tekanan akademik, kurang tidur, olahraga berlebihan, hingga penyakit dan operasi.
Bahkan, tekanan fisik seperti penurunan berat badan secara cepat, penyakit kronis, dan latihan berlebihan juga dapat memengaruhi menstruasi dengan cara serupa.
Kenali gejala menstruasi yang berkaitan dengan stres
Selain durasi haid yang lebih panjang, perubahan menstruasi akibat stres dapat disertai sejumlah gejala lain.
Beberapa di antaranya adalah kram hebat, kelelahan, perubahan suasana hati, sakit kepala, munculnya jerawat, perubahan nafsu makan, hingga haid yang terlewat.
Meski demikian, Dr. Jain mengingatkan, haid berkepanjangan tidak selalu disebabkan oleh stres.
“Kondisi seperti PCOS, gangguan tiroid, fibroid, endometriosis, infeksi, ketidakseimbangan hormon, atau komplikasi terkait kehamilan juga dapat menyebabkan perdarahan yang tidak normal,” katanya.
Oleh karenanya, jika haid berlangsung sangat lama dan terus terjadi selama beberapa siklus, pemeriksaan medis penting dilakukan. Dengan begitu, penyebab pasti perubahan menstruasi dapat diketahui dan ditangani sesuai kondisi.
Sebelumnya: Ketua IDI TTU Diperiksa Polda NTT, Ungkap Intimidasi yang Dilaporkan Dokter Icha Sebelum Meninggal
Selanjutnya: Material Rendah Emisi Mulai Jadi Pilihan untuk Ruang Bermain Anak
Artikel Terkait
- Mahasiswa King's College London Minta RUU Perampasan Aset Dibahas Secara Cermat
- Viral Pemotor Tak Pakai Helm Nyelonong Masuk Tol Jagorawi
- Cek Daftar Harga BBM Hari Ini 21 Juli 2026 di SPBU Pertamina Se-Indonesia
- TNI Bentuk Tim Investigasi Usut Ledakan Gudang Amunisi di Madiun
- Polisi Ungkap Peredaran 'Pod Getar' Narkoba di Bogor, Kasus Pertama Se-Jabar
- 14 Kecamatan di Cianjur Dilanda Kekeringan, BPBD Distribusikan 20.000 Liter Air Bersih
- Motor Mahasiswa dengan Ciri Ini Jadi Incaran Curanmor di Tangsel
- Keir Starmer Lengser, Andy Burnham Jadi PM Baru Inggris
